Awal kuliah, melas, cari kerja susah

Semester-semester awal masuk kuliah dulu, sering sekali jalan kaki, keliling-keliling, melihat-lihat, nyari-nyari, barangkali ada lowongan kerja yang bisa dilakukan.

Keliling jalan kaki, semanggi, smp 2, bayangkara, mastrip, muter kembali ke kos2an lagi di jalan kalimantan. Berharap nemu pekerjaan yang bisa dilakukan sambil kuliah. Hampir setiap sore, sendirian, keliling-keliling, jalan kaki.

Saat di rumah, di tengah kekhawatiran orang tua, kegalauan mereka, dengan pertanyaan apakah mampu menyelesaikan membiayai kuliah anaknya, sering kukatakan pada mereka, sy akan mencari kerjaan sampingan, kerja sambil kuliah, mungkin hanya sekedar menenangkan mereka, but its work.
Jika anaknya mengerti keadaan orang tua, itu membuat orang tua lebih kuat dalam perjuangannya.

Waktu berlalu…
Keadaan ada yang berubah, tapi ada yang masih sama saja…
Ketakutan-ketakutan pada tidak terpenuhi tanggung jawab selalu ada, dulu atau sekarang, bahkan dengan keadaan2 lain yang jauh berbeda.
Seringkali memang, ketakutan2 itu tidak beralasan. Hampir semua ketakutan itu pada hal yang belum terjadi.
Dengan bahasa ekstrim, untuk manusia yang mengenal Tuhan, manusia yang mengerti kata bersyukur, manusia yang tahu kata sabar, ketakutan-ketakutan itu seringkali tidak masuk akal.

Jika hanya melihat satu sisi saja, setiap manusia akan merasa menjadi manusia yang paling sengsara.
Ya, aku yg paling sengsara.
Kenyataanya, disisi lain, jika bisa melihat sisi yang lain, sisi baiknya, sisi beruntungnya, ternyata masih banyak orang lain di luar sana yang lebih tidak beruntung, Kita masih lumayan, masih mendingan.

Teringat sebuah tulisan, dalam seburuk-buruknya keadaan, akan selalu ada hal yang layak disyukuri, dan dalam sebaik-baik keadaan, akan selalu ada hal yang mesti diperbaiki.

Jika, semua merasa paling menderita, lalu apa artinya melafal hamdalah jika ternyata msh tidak bisa bersyukur jg.

Lihat di luar sana, masih lebih banyak yang lebih sengsara. Lihat diluar sana, kita pun juga jangan sebaliknya, jangan seenaknya, enak-enakan saja.

Setiap keadaan berubah silih berganti. Kehidupan memang seperti itu.

Bisa menarik napas detik ini, bisa menghidup udara malam ini, bisa ngopi setiap hari, lalu kurang apa lagi…

Work hard play hard…
Kerja keras dalam upaya, pasrah dalam hasilnya, itu syukur namanya.

Thanks for coffee, my love Farida Agustin

Masjid kampus unej

Leave a Reply