Bakat itu…. hemmm….

Dulu, saat masih jadi guru, itu adalah hari-hari yang berat menurut saya. Berat karena harus selalu membagi pikiran, antara bekerja disana dan pikiran-pikiran yang terus mengganggu untuk membangun usaha sendiri. Maka yang harus saya lakukan menurut saya waktu itu adalah membuat lingkungan yang kondusif dan mendukung dalam upaya membangun usaha sendiri. Ya, saya pikir, saya harus merubah lingkungan pergaulan saya waktu itu. Itulah mengapa, saya harus membuat waktu sesedikit mungkin berada di lingkungan sekolah, saya tidak berlama-lama di sekolah, segera keluar jika jam mengajar sudah habis, dan segera berganti lingkungan. Itu tidak mudah, sehingga harus bertahun-tahun tetap melakukan hal seperti itu. Tapi, ini semua tergantung pilihannya. Jika pilihannya memang tetap mempertahankan status sebagai karyawan, guru, ini memang sangat tidak baik dalam jangka panjang, tetapi jika pilihannya memang lebih kuat untuk meninggalkan status guru, saya pikir ini sangat membantu proses itu.
Di tengah perjalanan saya merubah lingkungan pergaulan saya itu, suatu hari, saya bertemu dengan salah seorang saudara yang sepertinya memang tidak terlalu sepakat dengan saya dan meragukan saya. Bincang-bincang tentang membangun usaha sendiri, lalu katanya, ini yang teringat sampai sekarang, “bisnis perlu bakat, kalo ndak ada bakat, itu akan sulit”. Secara lebih jelas, yg dimaksud adalah, ‘kamu tidak punya bakat, dan akan sulit untukmu’. Waktu itu, ini seperti tamparan buat saya, mana mungkin saya menuruti begitu saja kata-kata ini. saya tidak percaya. Saya terus belajar waktu itu. Saya pikir sulit hanya sekedar belajar dari orang-orang, akhirnya saya cari buku-buku, baca buku-buku bisnis, pengembangan diri, motivasi, buku perencanaan keuangan dan lain-lain yang berhubungan, mengikuti course, seminar bisnis, dan lain2. Sampai sekarang saya nggak tahu berapa banyak buku yang saya baca dan membuat perkakas menjadi semakin berat saat pindahan kontrakan, hihi…

Waktu terus berlalu, dan sekarang, saya baru sadar, ternyata benar kata saudara itu. Saya memang tidak punya bakat di bisnis. haha… dan saya menerima itu, tetapi ini tidak menyurutkan saya membangun usaha sendiri. Dan kenyataannya sekarang, saya hidup dari usaha yang saya bangun sendiri, saya mencukupi kebutuhan keluarga dan anak-anak saya dari bisnis sendiri. Dan saya tetap mengakui saya memang tidak berbakat.

So, hal-hal tentang bakat seringkali menyurutkan langkah seseorang. Dalam banyak hal, bakat itu tidak bisa diketahui sebelum kita melakukannya, sebelum kita menembus batas-batasnya. Seringkali bakat itu dipelajari dalam prosesnya. Semangat belajar seringkali jauh lebih penting dari sekedar bakat. Percuma punya bakat bawaan lahir tetapi itu tidak menjadi bara api semangat untuk terus mengasah bakat itu.

Jika pertimbangan bakat itu mempengaruhi saya waktu itu, mungkin saya akan tetap di pekerjaan saya sebagai guru, mengingat saya cukup berbakat untuk bertahan dalam rutinitas, sya cukup berbakat dalam mengajar anak-anak, saya cukup punya keahlian dalam memahami karakter anak-anak. Hanya saja saya cukup tidak kuat dan tidak berbakat untuk diatur-atur dengan peraturan yang saya sendiri tidak suka dan tidak mengerti, haha…

Cerita ini bukan bermaksud menjelekkan suatu profesi tertentu, tetapi hanya menekankan, bahwa dalam setiap pilihan itu perlu perjuangan, perlu pengorbanan, perlu belajar, perlu semangat untuk merubah lingkungan pergaulan, perlu sedikit mengabaikan tentang bakat yang seringkali bukan bakat sebelum kita tahu batas-batas dengan melakukan apa yang diinginkan terlebih dahulu. itu.
(tulisan pagi untuk sisemut.com)

bakat

Leave a Reply