Berpikir dan kebenaran sejati…

Bukan masalah hasilnya, tetapi masalah proses nya.
Kalo ada sesuatu yang baru, maka yang penting itu proses pencariannya. Tidak penting benar atau salahnya.
Pencariannya menghasilkan proses berpikir.
Dan berpikir nya itu yang penting.
Bukankah sudah jelas ayatnya, beruntunglah orang2 yang berpikir.

Tetapi jangan over estimasi bahwa proses berpikir itu nantinya menghasilkan kebenaran.
Proses berpikir itu dinamis, maka kebenaran yang dihasilkan bukanlah kebenaran sejati.
Kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran relatif, kebenaran manusia, dan kalo disetujui banyak orang, maka menjadi kebenarannya orang banyak.

Bahkan jika kita menggunakan dasar2 dari ayat2 suci sekalipun, kebenaran yang dihasilkan juga kebenaran dari tafsir manusia sendiri.

Kebenaran yang sejatinya, hanya Tuhan sendiri yang tahu.

Jadi kalo kebenaran kita sendiri itu kita paksakan kepada orang lain, yang tentu juga punya dasar yang juga menurutnya benar, maka tahu sendiri yang akan terjadi, debat tanpa ujung.
Jadi,
kalo tujuannya hanya menunjukkan diri yg paling benar, maka diskusi atau debat model apapun, hasilnya selalu sama, tidak ada kesepakatan, yang walaupun ada satu orang terlihat menang, dan yang lain terlihat kalah.
Tetapi esensinya tidak ketemu kesepakatan.

Lalu kebenaran sejati, kebenaran yang sebenar-benarnya bagaimana?, terhadap apapun itu,
Ya, kita tunggu aja, besok-besok kalo sudah menghadap Tuhan, kita tanyakan bareng2 aja. ya, besok aja.

Sekarang, kita tetap rukun, saling menghormati, tidak perlu saling menyalahkan, apalagi nyinyir2an. ya., ..

thinking photo

Leave a Reply