Cara dakwah ulama’ dahulu

Khotib masjid jami’ sukowono kemarin orangnya kalem. Nggak pake sorban. Nggak pake baju putih ala kiyai dan ustadz. Cuma pake songkok hitam nasional dan sarung batik.

Beberapa bulan yg lalu jg ketemu org yg sering diundang utk ceramah jg pakai baju biasa seperti itu. Dan berkali-kali mengatakan, sy manusia biasa.

Jadi inget kata simbah, dahulu juru dakwah itu memakai pakaian sama kayak masyarakat umumnya.

Salah seorang kenalan jg pernah bilang, kalo mau dakwah itu, hrs kenal dulu sama yg didakwahi, Bkn hy kenal nama, tp kenal latar belakang nya jg. Dan ada adabnya, ceramah kalo diminta, dan lbh banyak berdakwah dg teladannya. Dakwah itu tdk hy ceramah, katanya.

Jadi, krn kenal dg jamaahnya, sehingga tdk salah tembak seperti asal keluarin dalil2. Ayat-ayat suci, hadist-hadist, itu bagus. Tetapi jika ditembakkan dengan cara yang salah, atau hanya karena untuk sombong-sombongan agar dikira alim dan berpengetahuan, maka itu bisa berbahaya, terutama bagi dirinya sendiri.

Seorang juru dakwah harus bisa menyatukan dirinya dengan masyarakat. Tidak membatasi diri sehingga ia tidak bisa mengenali masyarakat dengan baik. Juru dakwah dahulu blusukan di kampung-kampung, warung kopi warung kopi, dan bergaul selayaknya masyarakat biasa. Bercocok tani selayakanya masyarakat umumnya. Mereka tidak mencari uang dengan berdakwah. hemmm…

perjalanan ke tasikmalaya

***Foto diambil dari atas kereta dari surabaya ke tasikmalaya. Renungan pagi.***

Leave a Reply