Gara2 lomba mewarna, cerita pagi…

Sy melihat, sejak mulai bisa jalan, anak kedua sy memang memiliki aspek kinestetik yang cukup lumayan. Sy mengatakan lumayan, bukan bagus sekali, krn memang bukan untuk itu maksud tulisan ini.
Hari ini, kata ibu nya, guru TK nya datang dan bilang akan diikutkan lomba mewarnai. Sejak awal, sy juga tahu, ini anak memang suka mewarna. Kalo mewarna, tidak belepotan, rapi, dan tidak asal pilih warna.
Bagi sy pribadi, kemampuan anak sy ini tidak menarik. Justru sy melihat kelemahan disana.
Setahu saya, menggambar itu untuk meningkatkan kreatifitas, mengetahui karakter psikologi anak dari cara dia memilih warna, dsb. Menurut saya anak saya ini dari cara mewarnanya, msh kurang kreatif, kurang berani memutuskan, kurang kuat mentalnya.
Dan memang begitu kenyataannya, mulai masuk TK yg terlalu dini, dengan usia cukup jauh dari teman2nya, sy rasa ini wajar. Dan ini membuat sy berpikir mencari solusinya.

Tapi…
Ini tidak sama dengan pendapat guru TK nya.
Menurutnya, cara mewarna anak saya ini bagus. Makanya diikutkan lomba. Mungkin saja, karena pengalaman jam terbang sebagai guru TK, sehingga dpt menyimpulkan seperti itu yg bagus. Umumnya.
Ini adalah salah satu contoh kecil dari perbedaan.
Hanya soal mewarna dan menilainya.
Hemmm…

Umumnya, mungkin kalo ada anak mewarnai gambar langit dengan warna merah, semua guru akan memberinya nilai jelek.
Tp, saya, hampir 9 tahun menjadi guru, tetap akan memberi nilai bagus. Namanya juga kreatifitas, mesti bebas dong. Cara menilainya berbeda.
Kenyataannya, selama saya mengajar, hampir semua anak tahu, sy tidak pernah memberi nilai jelek di rapot.
teman guru lain bilang, sy tidak koreksi jawaban.
Itu janji sy pada anak murid sy sejak awal, bahwa nilai itu tidak penting untuk anak. Tugas utama sya membuat anak menjadi percaya pada dirinya sendiri, jadi, sy sering membuat soal mudah, hanya untuk membuat anak2 merasa bisa, senang, lalu tertarik.

Sebenarnya, kalo diingat-ingat lagi, banyak sekali perbedaan pandangan, antara pendapat saya dengan pendapat yang umumnya diterapkan di sekolah.

Gara2 cerita anak saya diikutkan lomba mewarna, jadi teringat lagi.
Kadang kala, perbedaaan2 pandangan itu, sulit sekali dikompromikan, bahkan pada teman2 seprofesi.
Ya, sebagian besar orang itu tidak biasa berprikir kritis ke dalam, mengkritisi diri sendiri, dan mengkritik apa saja yang telah dilakukannnya sendri.

Sampai akhirnya, sy tidak bisa lagi bertahan dalam perbedaan2 cara pandang itu. Sy keluar. disamping banyak hal lain yang membuat saya harus tegas memutuskannya.
Jadi, bukan hy krn gajinya kecil. Saat sy keluar itu, profesi guru dimanjakan dengan adanya sertifikasi.

Intinya, sampai sekarang, kalo harus menyerahkan pendidikan anak secara total kepada sekolah, sy pribadi akan terasa berat.
Sy tidak mengatakan sekolah tdak penting.
Sekolah tetap penting.
Bg saya sekolah itu tempat nyari teman sparing partner untuk anak saya. Bagaimana menerapkan apa yang diajarkan orang tua di dalam pergaulan yang lebih luas.
Ya, nyari teman. SEkolah penting. Terutama untuk bidang2 teknis.

Tapi untuk idealisme, kepribadian, dan karakter, maka orang tua jangan lepas tangan. Itu tugas orang tua.
nggak bisa hal itu diserahkan ke sekolah, terlalu ‘lepas’ kontrol.
Jangan sampai anda kaget, setelah melepaskan anak anda sekian lama, suatu saat nanti tiba2 tersadar, anda tidak bisa lagi mengendalikan lagi anak2 anda sendiri.
Bahkan sekedar menasehati pun tidak bisa. Lepas kendali.

sekolah photo

Leave a Reply