Internet Learning Story. Sebuah Cerita…

Dari Gaptek semua dimulai…

Tahun 2000, blas nggak ngerti komputer, nggak ngerti kalo komputer itu matiinnya harus di shutdown. Itu tahun awal masuk kampus. Matiin komputer perpus kampus pake di pencet aja langsung tombol powernya. Alhasil, dimarahin petugas perpus. #InternetLearningStoryPart1

Sekitar tahun 2003, diajari bikin email, yang ngajari bikin email istri sy. Waktu itu masih temen. Pake yahoo. Email itu yang dipakai berselancar di internet. Sign up kemana2, dimasukain ke banyak opt in penawaran2 yang bertebaran di internet. Alhasil, inbox email itu penuh dengan email penawaran.

Dari sana, banyak tahu, kalo ada uang di internet.

Siapa yang ngajari bikin email? Istri. Jadi dalam hal internet, orang pertama yang harus diucapi terima kasih adalah, istri saya.
#InternetLearningStoryPart2

Padahal sudah sejak 2003, kadang kepikiran, kenapa nggak sejak itu belajar fokus di internet marketing. Tapi mau gimana lagi, mahasiswa pas2an, terlalu sering ke warnet bisa tambah kering kantong.

Akhirnya pilih kerja yang agak berkeringat sedikit, yang penting nggak ngeluarin duit modal. Ngajar private anak2 SD dan SMP.

Idealnya sih, mumpung masih mahasiswa, banyak waktu kosong, belajar internet marketing, mudah fokus, pikiran juga lagi semangat2nya belajar.
#InternetLearningStoryPart3

Setelah menikah, tahun 2006, juga masih belum bisa maksimal belajar internet marketing. Tetapi keinginan membangun usaha sendiri tetaplah kuat.

Di sela2 mengajar, di sekolah dan private, dimulailah usaha kecil2an. Di awali dengan membuat 2 buah stempel. Satu stempel untuk merintis bimbingan belajar sendiri dan 1 stempel untuk merintis usaha publising dengan konsep self publising.

Stempel bimbingan untuk jualan try out saya sendiri ke sekolah2, buat soal sendiri dikoreksi sendiri. Satu stempel untuk jualan buku yang di tuliis sndiri dicetak sendiri. Kalo inget itu masih suka ketawa sendiri.

Pagi ngajar, siang nyales try out dan buku cetak, sore ngajar sampai malam. huah, capeknya luar biasa. Keluar jam 6 pagi, pulang jam 9 malam. Nyampek kos2an, langsung di depan komputer. Masih belum ada koneksi internet.

Untungnya ada istri yang nyemangati…

Sampai akhirnya tahun 2007, mulai belajar marketiva, semcam trading forex. Dilanjut dengan gogonai.info yang entah sekarang pada kemana itu.

Itulah awal dimulai kesasar di belantara internet.

Pointnya, di internet itu banyak sekali peluang. Bahkan terlalu banyak. Maka yang diperlukan adalah paham tentang model bisnis.

Secara umum, model bisnis itu selalu sama, yaitu tentang apa yang dijual, jasa atau produk fisik. Jika sudah paham biasanya tidak mudah terjebak dalam skema dapat duit tanpa kerja, dapat duit tanpa jualan, dapat duit dengan tiduran, dan semacamnya yang biasanya berujung pada model2 money game.
#InternetLearningStoryPart4

Intinya, dari 2007 sampai 2012, itu sebagian besar usaha offline.
Dan saya tetap bersuka cita mengenangnya, karena bagaimanapun, saya banyak belajar dari sini. Model2 bisnis saya pelajari dari usaha offlline ini. Dan ini yang mendasari belajar saya di internet marketing kemudian.

Menjual buku tulis, dengan sistem konsinyasi, titip jual ke toko2, itu profit, tapi akan sangat berat di cash kita, karena putarannya yang lambat. Jadi butuh modal double.

Berat, kata dilan.

Lalu mulailah kuliner. Logika saya waktu itu, ini menyempurnakan model sebelumnya. Kuliner itu putaran uang cepat. Harapannya akan lebih baik dari usaha sebelumnya.

Dimulailah mengambil sebuah BO, bisnis oportunity. Ah, namanya saja BO, intinya geraknya jualan gorengan. Hanya saja, sistem sudah diajari dari mereka yang jual BO. Kita tinggal buka, dan jualan saja.

Jualan gorengan ngemper di depan teras indomaret. Sudah pake karyawan sih, ini pertama kalinya belajar ngelola pegawai. Tapi tetep saja, kadang juga harus tetep ikutan goreng2 dan melayani pembeli.

Beli BO sekitar 7 juta. Hasil tabungan dari usaha sebelumnya dan dari hasil kerja ngajar.

Pesannya,

Pertama, apapun pekerjaan yang kita lakukan, jangan lupa berhemat. Sebisa mungkin bisa saving. Berapa pun kecil jumlahnya. Kita tidak pernah tahu, ada peluang apa di depan, atau ada keperluan apa di depan.

Kedua, jika menggunakan uang simpanan untuk keperluan modal bisnis, berpikirlah seribu kali. Karena hampir sebagian besar usaha, dimulai dari kegagalan. Hitunglah sejumlah uang yang mungkin direlakan sebagai ongkos belajar. Ah kasarnya, seberapa yang direlakan untuk kehilangan uang dalam menjalankan usaha pertama.

Kuliner, putarannya cepat, putaran barangnya cepat, cash cepat. Jika ada kemungkinan barang tidak laku, potensi kerugian hanya model bahan sehari itu saja. Besoknya tinggal bikin lebih sedikit. Tidak sperti nyetak buku tulis, harus langsung banyak.

Tapi, jika terus2an tiap hari ada sisa, rugi juga. Akhirnya tutup lah jualan gorengan.

Lalu dimulailah menyempurnakan usaha berikutnya, putaran cepat, tidak basi. Jualan pulsa, buka konter, tahun 2009. Usaha berikutnya… to be continue… #InternetLearningStoryPart5

Meloncat-loncat adalah cara termudah untuk jatuh

2009, ini pertama kali belajar bikin blog. Pake blogspot. Dipake masarin produk amazon, jualan produk lokal. Yah, masih coba2. Nggak pecah2 telur, hingga sampai tahun 2012. Pecah telur pertama kali dari online.

Tahun 2009 itu tahun yang sesuatu. Tahun yang penuh pelajaran.

Dan di tahun itu juga, pertama kali belajar cara ngajuin kredit perbankan. Tahun yang sesuatu. Tahun dimana untuk pertama kali mengalami, bahwa sebenarnaya dalam membangun usaha sendiri, itu bukan masalah modal. Modal itu sangat mudah.

Modal itu mudah. Berapapun butuh modal, asal usahanya bagus, maka modal bukanlah masalah.

Usaha yang tidak bagus, kurangnya kemampuan kita dalam memahami dan menjalankan usaha kita, itu yang sering menimbulkan alibi, alasan, tidak punya modal uang dalam menjalankan usaha. Yang kurang modal lah, yang gak punya modal lah, dst.

Jika tahu caranya, modal itu tidak masalah. Ada hal yang lebih penting dari modal uang, yaitu kemampuan mengelola usaha itu sendiri.

Tahun 2009, Saat itu baru awal2 bikin blog. Belajar di sela2 ngejalanin usaha offline. Konter pulsa waktu itu. Sewa kios di dekat kampus, dan permainan pun dimulai.

Berhasil kah?…

Ya, berhasil nggedein hutang… Berhasil menghabiskan rumah satu2nya yang sudah dibeli tahun 2007… Dijual tahun 2011 untuk mengurangi beban hutang.

Yang lainnya sibuk nabung beli rumah, sy jual rumah.

Nyesel?… Yang terjadi yang terbaik. Tuhan selalu punya cara membuat kita belajar.

Kembali membahas konter pulsa.

Jualan pulsa itu untungnya kecil, putaran cepat, tidak basi seperti kuliner. Ini memang sengaja memperbaiki dari usaha sebelumnya.

Tapi kelemahannya, putaran uang terlalu cepat, margin kecil. Yang terjadi adalah, mudah bocor. Operasionalnya tidak cukup di backup profitnya.

So, bagaimana, yah seperti yang terjadi sebelum2nya. Mesti ada yang diperbaiki. Muncullah ide jualan parfum. Putaran cepat, barang tidak basi, margin profit gedhe. Jadilah jualan parfum.

Pesannya,

1. Usaha itu belajar. Kita belajar dari proses memperbaiki. Sebagian besar usaha yang diceritakan itu adlah usaha yang timbul dari memperbaiki usaha sebelumnya. Jadi tidak asal loncat-loncat sana sini tidak teratur. Memperbaiki terus menerus, by proses. Kaizen, memperbaiki terus menerus.

2. Buruknya, hampir smeua usaha itu mencari solusinya sendiri dengan cara keluar, satu usaha dibuka dengan menutup usaha yang lainnya. Kadang merasa ini juga meloncat-loncat, walau dengan cara teratur. Tapi satu hal,

Cara tercepat untu jatuh adalah dengan meloncat-loncat.

Next, Moment fokus online… #InternetLearningStoryPart6

Moment fokus online…

2011, adalah tahun yang berat. Kredit sudah macet. Hampir tidak bisa bergerak di offline.

Maka yang terpikirkan adalah memulai usaha dengan modal seminimal mungkin. Dan yang terpikirkan adalah online.

Semua usaha offline ditutup, jual parfum berhenti, konter pulsa berhenti, sampai ngajar pun berhenti.

Banyak orang yang tahu, ketika sy bilang keluar dari tempat ngajar, mereka berpikir usaha sy sedang maju2nya. Kenyataannya adalah sebaliknya.

Suatu malam, sy sedang memilih nama domain untuk build toko online. Sy tanyakan sebuah nama domain kepada istri. Sy lanjut beli domain setelah sebuah nama domain mendapatkan acungan jempol dari istri saya.

Pagi harinya, sy tanya istri, mengapa setuju pake nama itu. Dia bilang nama yang mana. Ternyata baru tahu, kalo waktu mengacungkan jempol itu, istri nggak sadar, karena hampir tertidur, jadi asal jempol aja tanpa tahu sy tanya apa.

wew…

Singkat cerita, toko online itu pecah telur juga kurang lebih di bulan kedua. Cuma modal posting doang. Semua produk menggunakan sistem dropship.

Toko online asal jempol itu yang bantuin nyicil kredit, bantuin bikin rumah baru, dan memberikan modal baru untuk project2 online yang lain.

Yah, kurang lebih itulah moment fokus online saya.

Banyak cerita, kenapa offline itu tutup, kenapa memutuskan untuk fokus online, kenapa memutuskan tidak meneruskan mengambil kredit baru lagi, meskipun sebenarnya masih bisa, dll. Yang kesemuanya memberikan pelajaran berharga dalam perjalanan hidup sy.

Pelajaran berharganya adalah, jangan berhenti belajar.

Dari yang nggak tahu cara shutdown komputer, sampai bisa bkin toko online, itu seperti memasuki mata kuliah yang sama sekali asing, dan mengulang2 nggak lulus2, dan butuh waktu yang lama.

Itupun, sampai sekarang masih merasa bodoh, dengan begitu banyaknya hal2 yang belum sy ketahui.

Jadi sekali lagi, jangan berhenti belajar. Itu pesan untuk saya sendiri, dan barang kali juga pesan untuk siapa saja yg kebetulan membaca tulisan ini. #InternetLearningStoryPart7

Leave a Reply