Sekolah itu penjara pikiranmu

Ups… Judulnya sangat provokatif.

Hemmm… Maafkan saya untuk itu.

Ijinkan saya menjelaskannya.

Berapa banyak yang berpikir begini,

Hanya karena masih sekolah, masih kuliah, itu membuatnya merasa pantas untuk menangguhkan tanggung jawabnya sendiri untuk mandiri.

Hanya karena masih sekolah, membuatnya merasa boleh menunda tugasnya untuk bekerja dan belajar untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.

Hanya karena masih sekolah, itu membuatnya merasa pantas untuk masih menggantungkan dirinya pada dicukupinya kebutuhannya oleh orang tuanya.

Itulah maksud saya, sekolah itu penjara pikiranmu.

Penjara yang membuat sebagian orang, sebagian anak, seolah merasa begitu bersemangat untuk terus bersekolah.

Hemmm…

Jadi ingat dulu… Ijinkan saya bercerita…

Dulu, semester 3, sering sore hari, seringnya menyusuri jalan hanya untuk mencari cara, bagaimana saya bisa menemukan pekerjaan.

Itu hari-hari yang melelahkan. Pikiran begitu diperas.

Tapi, apalah daya, waktu itu hanya anak baru lulus sma, yang tahunya kerja di sawah, yang tahunya nyari rumput. Hedeh…

Lalu dilepas di kampus, suasana baru, dunia yang berbeda, Hemmm… apa yang bisa dilakukan di kampus.

Bingung waktu itu.

Hari-hari berlalu seperti itu dalam kegalauan dalam masalah pekerjaan…

Sampai akhirnya, semester 5, kenal dan tahu ada peluang cara menghasilkan uang. Les privat panggilan.

Itulah perjalanan menghasilkan uang dimulai.

Sejak itu, kebanyakan mikirnya gimana caranya nambah jam ngajar privat. Hemmm…

Dunia kemandirian pun dimulai dalam pekerjaan…

Les privat untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Awalnya dibayar 6 rb per datang. Hemm..

Rasanya, kayak baru kemarin saja pensiun dari jadi guru privat. Modal menikah, modal beli susu anak, beli pempers anak, ya dari jadi guru privat dan mengajar …

Ah… sudah disudahi aja ya ceritanya…

Intinya begini, …

Banyak orang terjebak dalam pemikiran, bahwa dengan sekolah, itu membuatnya pantas untuk tidak bekerja dulu.

Itulah penjara…

Penjara yang membatasi pikiran mu untuk berkembang dengan lebih awal dan dini.

Kau hanya memikirkan kerja dan mandiri hanya setelah lulus sekolah.

Wow… Itu begitu terlambat…

Ada banyak hal yang perlu dipelajari dan dilakukan jauh-jauh hari, jauh-jauh saat masih sangat muda.

Sesuatu yang dipelajari sedini mungkin…

Yaahhh… Secara umum memang tidak ada kata terlambat…

Tetapi bayangkan saja jika hal mendasar itu dipelajari jauh lebih awal…

Start lebih awal…

Menanam lebih awal, maka panennya juga akan lebih awal kan.

Hemmmm…..

 

Sebuah renungan di,

POM Bensin Arjasa,

Jember, 24 maret 2017

Tulisan dalam blog ini disalin dari tulisan tangan ini…

 

Sekedar tambahan dan saran saja…

Jika menulis itu untuk tujuan menyehatkan pikiran, maka menggoreskan tinta dalam kertas, akan lebih baik untuk pikiran.

Gerakan tangan lebih mudah mengimbangi pikiran, daripada menuliskan dalam keyboard atau tombol handphone.

Dan…

Dalam hal menulis untuk terapi pikiran, its work for me.

Sampai sekarang, kadang saya masih melakukannya disini…

Jadi inget dulu, saat masih muda, galau karena cinta, PDKT yang lama pada seorang gadis (kebetulan sekarang menjadi istri saya), saat itu menulis adalah terapi hati dan pikiran.

Cukup efektif, lama-lama jadi buku tebal berlembar-lembar, yang sekarang, meskipun masih tersimpan, saya sendiri tidak berani membaca ulang, entah kapan terakhir membaca. Sekarang rasanya tidak berani membaca lagi buku itu. Mungkin karena malu sendiri atau apa, entahlah…

Hanya istri yang sesekali membaca buku itu…

Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku itu, istriku selalu menangis sendiri… dan saya, tidak pernah berani menemani membaca. Hedeh…

Intinya, jika untuk kesehatan pikiran, menulis secara manual lebih baik.

Menulis untuk sendiri, jujur untuk diri sendiri… itu menyehatkan.

Jangan di sosmed, sangat berbeda, dorongan menulis di sosmed itu sangat tidak sehat, tidak alami, tidak murni.

Keinginan untuk dilihat orang lain, ketakutan dibaca orang lain, itu sangat tidak baik untuk kesehatan pikiran dan hati jika menggunakan cara menulis untuk menyehatkan pikiran dan hati. Trust me.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.